Pendidikan
merupakan proses jangka panjang. Belajar matematika juga merupakan pendidikan
jangka panjang yang memerlukan kreatifitas. Kreatifitas dalam belajar
matematika diperlukan untuk mengembangkan ide-ide matematika dan berimajinasi.
Hal ini berpengaruh dalam pemecahan masalah-masalah Matematika yang memiliki
bebagai macam solusi sehingga diperlukan kreatifitas. Kreatifitas seseorang
dibentuk ketika masih usia dini seperti di Sekolah Dasar.
Semakin
tumbuh dan berkembangnya seseorang, kreatifitas, sifat dan cara berfikir
seseorang tidak berubah. Seseorang terlihat berubah karena wawasan dan
pengetahuannya yang semakin luas sehingga terlihat berubah. Pola kegiatan pun
juga menjadikan seseorang terlihat berubah seperti seorang siswa yang sering
diam ketika masih di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama kemudian
merubah polanya menjadi lebih sering berbicara. Ketika seseorang merubah metode
dan strategi belajar akan membuat seseorang terlihat berubah.
Pembelajaran
dengan berbagai perubahan-perubahan metode dan startegi belajar dapat
memperluas wawasan dan pengetahuan yang membuat seseorang terlihat berubah.
Metode dan strategi belajar yang paling baik adalah silaturahim yaitu terjemah
dan menterjemahkan, dari bahasa Yunani hermenitika.
Silaturahim dengan berbagai karya ilmiah, Matematika, bahasa dan sebagainya. Memperluas
dan membuka wawasan bagi seorang pendidik dengan cara lesson study sangat
penting. Lesson study merupakan cara yang baik karena dari guru untuk guru oleh
guru.
Pembelajaran
selain dengan metode dan strategi pembelajaran juga melibatkan rasa. Peserta
didik memliki berbagai macam tipe dalam memahami sesuatu dan salah satunya
adalah tipe seseorang yang mengerti jika dipaksa, karena perasaan tertekan atau
karena terpaksa. Hal ini menimbulkan adanya rasa takut dalam proses belajar.
Seseorang yang memahami sesuatu karena rasa tertekan, terpakasa atau jika
dipaksa, maka apa yang sudah dipahami tidak akan tahan lama. Ketika unsur rasa
takutnya hilang maka sifat-sifat dan pemahaman yang melekat pada diri karena
rasa takut tersebut juga akan hilang, sehingga tidak bertahan lama. Berbeda
dengan suatu pemahaman dan sifat-sifat yang diiringi dengan perasaan yang
menyenangkan, maka akan bertahan lama.
Pendidikan
merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Pemahaman yang didapat juga dipengaruhi
oleh lingkungan. Lingkungan tersebut mendukung atau tidak mendukung seseorang
dalam memahami sesuatu. Seperti adanya kebiasaan yang terbentuk oleh seseorang.
Contoh ketika lingkungan seorang siswa dalam kelas atau pergaulan dalam kelas
bersama dengan orang-orang yang rajin maka akan mempengaruhinya, begitu juga
jika pergaulannya dengan orang-orang yang malas. Perlu adanya budaya pemahaman,
budaya pembiasaan/enculture. Enculture sangat penting untuk membiasakan
seseorang, namun bukan dengan cara menjadikannya seperti pengemis ilmu. Seorang
guru tidak seharusnya memberi ilmu secara terus menerus kepada siswa karena hal
itu merupakan cara yang tradisional tanpa adanya timbale balik dari siswa.
Seorang guru merupakan fasilitator bagi siswa untuk mengeksplorasi ilmu yang
didapat, bukan hanya memberi ilmu tanpa adanya usaha siswa mengeksplorasi potensi
diri. Ini bukan sesuatu yang dilakukan secara etnomatematika.
Source: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar