Guest

Senin, 10 Juni 2013

Kedudukan Etnomatematika dan Posisi Guru



Pada perkuliahan terakhir Mata Kuliah Etnomatematika hari Selasa tanggal 28 Mei 2013, Prof. Dr. Marsigit, M.A. mengawali topik mengenai strategi perkuliahan. Pada berbagai kesempatan baik di tingkat S1 maupun S2, beliau selalu berusaha menggunakan pendekatan student center, tidak selalu setiap saat terlihat namun keseluruhan. Pendekatan ini bersesuaian dengan pembelajaran konstruktivis dan beliau mengembangkan CTL namun dalam pengertian ontologis yang mencakup 2 komponen yaitu terkait dan persiapan. Segala sesuatu pasti saling terkait dan agar dapat mengkaitkannya maka seseorang harus memiliki kesiapan. Hal tersebut tidak akan terjadi jika seseorang tersebut terisolasi. Selain tatap muka maupun penugasan. beliau juga memanfaatkan web blog agar belajar selalu kontinu dimanapun dan kapanpun tanpa harus bertatap muka.
           Berkaitan dengan etnomatematika, dari unsur kata etnomatematika secara awam matematika adalah matematika dan etno adalah etnik atau konteks budaya lokal. Jika dilihat dari struktur bahasanya belum terarah ke pendidikan, masih bersifat umum, walaupun etnomatematika dikembangkan oleh orang-orang pendidikan. Etnomatematika tumbuh dari perdaban manusia dan akan selalu tumbuh berkembang selama masih ada peradaban manusia. Etnomatematika mengandung unsur masyarakat, sejarah dan matematika. Dalam sejarah kita dapat mempelajari Matematika dari jaman dahulu hingga sekarang. Matematika terikat dengan sejarah dan orang Matematika murni bisa mendapatkan inspirasi dari hal tersebut. Menurut Emmanuel Kant kriteria ilmu yaitu bersifat sintetik apriorik. Matematika murni menurut Emmanuel Kant bukanlah suatu ilmu melainkan hanya apriorik dan hanya merupakan ide-ide tanpa ada pengalaman serta tidak mempedulikan apakah ada manfaatnya atau tidak. Ilmu bersifat sintetik dan sintetik ada di dunia pengalaman yaitu sintetik aposteriorik, sedangkan matematika hanya ada dipikiran yaitu apriorik analitik. Etnomatematika merupakan ilmu jika dipikirkan dan erat kaitannya dengan pengalaman.
           Etnomatematika berkaitan dengan pembelajaran secara hakiki, hakikat ilmu adalah apabila memiliki obyek, maka obyek Etnomatematika adalah semua gagasan Etnomatematika yang berada di dalam masyarakat. Setelah mengetahui obyeknya maka kita perlu mengetahui kedudukannya. Etnomatematika menyediakan variasi sumber belajar, variasi kegiatan, variasi pengalaman dan variasi konteks, karena menyediakan variasi tersebut maka Etnomatematika berada pada tingkatan bawah yaitu konkrit. Tingkatan ini masih pada tingkatan siswa dan belum abstrak. Namun kebanyakan pendidik berpikir bahwa Matematika merupakan ilmu yang bersifat deduktif dan abstrak, ini tidak fleksibel dan tidak sesuai bagi siswa karena tidak sesuai dengan kondisi. Hal ini menunjukkan ketidakpedulian pendidik yang selalu menggunakan definisi kepada siswa tanpa melihat tingkatannya. Tidak semua bisa didefinisikan seperti hal yang intuitif, karena hal itu merupakan intuisi yang sudah kita ketahui tanpa perlu didefinisikan.
           Jadi, dalam hal kependidikan Etnomatematika merupakan dunia inovasi pendidikan. Hal ini ditentukan oleh sikap dan pikiran guru, dari sisi kurikulum ada 3 posisi guru yaitu pelaksana, partisipan, dan pengembang. Guru sebagai pelaksana dan partisipan belum menampakkan adanya inovasi pendidikan karena masih terpaku pada perangkat pembelajaran seperti RPP dan ujian oriented sebagai tujuan pembelajaran. Syarat agar guru dapat berinovasi dalam pembelajaran, maka guru harus memposisikan diri sebagai pengembang. Guru sebagai pengembang dapat berinovasi melalui pengembangan kurikulum bukan hanya sekedar pelaksana dan partisipan. Agar seorang guru dapat menjadi seorang pengembang maka semua paradigma harus ada perubahan. Selain itu guru juga harus memposisikan sebagai peneliti, sehingga memiliki kinerja yang berbeda. Guru yang seperti ini memiliki keterkaitan dengan Etnomatematika, dan tinggal mencari cara untuk mengembangkannya. Sehingga Etnomatematika menjadi lahan bagi para peneliti yang ingin mengadakan penelitian mengenai Matematika.
Source: Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Senin, 18 Maret 2013

Matematika dalam Bahasa dan Nilai Matematika


           Bahasa merupakan sarana komunikasi antar individu. Tanpa adanya bahasa, maka akan sulit untuk memahami induvidu lain. Dengan adanya bahasa manusia dapat memahami suatu situasi dan berpikir secara sistematis, sehingga memperluas ilmu serta wawasannya. Begitu juga dengan Matematika yang dapat melambangkan serangkaian kalimat  atau pernyataan yang akan disampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yaitu akan memiliki arti jika terapat makna dalam simbol tersebut. Tanpa hal itu Matematika hanyalah sekumpulan angka dan rumus yang tidak memiliki makna.
Matematika merupakan bahasa yang melengkapi bahasa sehari-hari. Dalam hal ukuran, hubungan, dan sebagainya, Matematika merupakan sebuah bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika memiliki kelebihan dalam hal numerik yang memungkinkan kita menyampaikan informasi pengukuran yang lebih kuantitatif. Penyampaian informasi bukan hanya sekedar besar, kecil, sedikit, banyak, lebih besar, lebih kecil, dan sejenisnya, namun lebih bersifat eksak. Matematika dalam bahasa memiliki keistimewaan yaitu jelas terlihat hubungannya. Walaupun matematika merupakan bahasa yang dapat melengkapi bahasa sehari-hari, namun tidak semua kalimat matematis dapat digunakan dalam bahasa sehari-hari karena tidak semua orang mengerti Matematika. Walaupun begitu, Matematika merupakan ilmu yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan lain seperti dalam ilmu desain, lukis, ekonomi, bahkan sosial. Sehingga Matematika dalam bahasa memiliki peranan dalam masing-masing ilmu pengetahuan yang lain.
Selain mengenai matematika dalam bahasa, nilai matematika itu sendiri dapat dilihat dari konteks ontologis, epistimologis, dan aksiologis dalam batas-batas nilai intrinsik, ekstrinsik, dan sistemik. Nilai matematika secara ontologis yaitu nilai mengenai apa yang ada, dan membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Sehingga matematika ada karena keberadaan para pelaku matematika itu sendiri, secara implisit merefleksikan dan menginterpretasikan kenyataan matematika itu sendiri sebagai suatu pengetahuan yang berguna dalam pergaulan.
Nilai Matematika secara epistimologis yaitu nilai yang mampu mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif dengan konsep-konsep yang kongkrit, kontekstual, dan terukur. Kemudian secara aksiologis yaitu nilai yang sangat banyak memberikan kontribusi perubahan bagi kehidupan umat manusia atau pendekatan yang berkaitan dengan nilai yang ada di matematika (value). Nilai matematika intrinsik merupakan nilai yang digunakan untuk diri sendiri, nilai Matematika ekstrinsik yaitu nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan nilai Matematika sistemik yaitu nilai matematika yang dapat digunakan di masyarakat luas.Nilai Matematika terendah adalah nilai yang digunakan untuk diri sendiri dan nilai tertinggi adalah nilai yang dapat digunakan di masyarakat luas. Nilai matematika yang dikembangkan harus disertai dengan berpikir kritis karena Matematika adalah mengenai berpikir kritis.

Senin, 04 Maret 2013

Perubahan Diri dan Enculture

                      Pendidikan merupakan proses jangka panjang. Belajar matematika juga merupakan pendidikan jangka panjang yang memerlukan kreatifitas. Kreatifitas dalam belajar matematika diperlukan untuk mengembangkan ide-ide matematika dan berimajinasi. Hal ini berpengaruh dalam pemecahan masalah-masalah Matematika yang memiliki bebagai macam solusi sehingga diperlukan kreatifitas. Kreatifitas seseorang dibentuk ketika masih usia dini seperti di Sekolah Dasar.
Semakin tumbuh dan berkembangnya seseorang, kreatifitas, sifat dan cara berfikir seseorang tidak berubah. Seseorang terlihat berubah karena wawasan dan pengetahuannya yang semakin luas sehingga terlihat berubah. Pola kegiatan pun juga menjadikan seseorang terlihat berubah seperti seorang siswa yang sering diam ketika masih di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama kemudian merubah polanya menjadi lebih sering berbicara. Ketika seseorang merubah metode dan strategi belajar akan membuat seseorang terlihat berubah.
Pembelajaran dengan berbagai perubahan-perubahan metode dan startegi belajar dapat memperluas wawasan dan pengetahuan yang membuat seseorang terlihat berubah. Metode dan strategi belajar yang paling baik adalah silaturahim yaitu terjemah dan menterjemahkan, dari bahasa Yunani hermenitika. Silaturahim dengan berbagai karya ilmiah, Matematika, bahasa dan sebagainya. Memperluas dan membuka wawasan bagi seorang pendidik dengan cara lesson study sangat penting. Lesson study merupakan cara yang baik karena dari guru untuk guru oleh guru.
Pembelajaran selain dengan metode dan strategi pembelajaran juga melibatkan rasa. Peserta didik memliki berbagai macam tipe dalam memahami sesuatu dan salah satunya adalah tipe seseorang yang mengerti jika dipaksa, karena perasaan tertekan atau karena terpaksa. Hal ini menimbulkan adanya rasa takut dalam proses belajar. Seseorang yang memahami sesuatu karena rasa tertekan, terpakasa atau jika dipaksa, maka apa yang sudah dipahami tidak akan tahan lama. Ketika unsur rasa takutnya hilang maka sifat-sifat dan pemahaman yang melekat pada diri karena rasa takut tersebut juga akan hilang, sehingga tidak bertahan lama. Berbeda dengan suatu pemahaman dan sifat-sifat yang diiringi dengan perasaan yang menyenangkan, maka akan bertahan lama.
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Pemahaman yang didapat juga dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan tersebut mendukung atau tidak mendukung seseorang dalam memahami sesuatu. Seperti adanya kebiasaan yang terbentuk oleh seseorang. Contoh ketika lingkungan seorang siswa dalam kelas atau pergaulan dalam kelas bersama dengan orang-orang yang rajin maka akan mempengaruhinya, begitu juga jika pergaulannya dengan orang-orang yang malas. Perlu adanya budaya pemahaman, budaya pembiasaan/enculture. Enculture sangat penting untuk membiasakan seseorang, namun bukan dengan cara menjadikannya seperti pengemis ilmu. Seorang guru tidak seharusnya memberi ilmu secara terus menerus kepada siswa karena hal itu merupakan cara yang tradisional tanpa adanya timbale balik dari siswa. Seorang guru merupakan fasilitator bagi siswa untuk mengeksplorasi ilmu yang didapat, bukan hanya memberi ilmu tanpa adanya usaha siswa mengeksplorasi potensi diri. Ini bukan sesuatu yang dilakukan secara etnomatematika.
Source: Prof. Dr. Marsigit, M.A.