Pada
perkuliahan terakhir Mata Kuliah Etnomatematika hari Selasa tanggal 28 Mei
2013, Prof. Dr. Marsigit, M.A. mengawali topik mengenai strategi perkuliahan. Pada
berbagai kesempatan baik di tingkat S1 maupun S2, beliau selalu berusaha
menggunakan pendekatan student center,
tidak selalu setiap saat terlihat namun keseluruhan. Pendekatan ini bersesuaian
dengan pembelajaran konstruktivis dan beliau mengembangkan CTL namun dalam
pengertian ontologis yang mencakup 2 komponen yaitu terkait dan persiapan.
Segala sesuatu pasti saling terkait dan agar dapat mengkaitkannya maka
seseorang harus memiliki kesiapan. Hal tersebut tidak akan terjadi jika
seseorang tersebut terisolasi. Selain tatap muka maupun penugasan. beliau juga
memanfaatkan web blog agar belajar
selalu kontinu dimanapun dan kapanpun tanpa harus bertatap muka.
Berkaitan dengan etnomatematika, dari
unsur kata etnomatematika secara awam matematika adalah matematika dan etno
adalah etnik atau konteks budaya lokal. Jika dilihat dari struktur bahasanya belum
terarah ke pendidikan, masih bersifat umum, walaupun etnomatematika
dikembangkan oleh orang-orang pendidikan. Etnomatematika tumbuh dari perdaban
manusia dan akan selalu tumbuh berkembang selama masih ada peradaban manusia.
Etnomatematika mengandung unsur masyarakat, sejarah dan matematika. Dalam
sejarah kita dapat mempelajari Matematika dari jaman dahulu hingga sekarang.
Matematika terikat dengan sejarah dan orang Matematika murni bisa mendapatkan
inspirasi dari hal tersebut. Menurut Emmanuel Kant kriteria ilmu yaitu bersifat
sintetik apriorik. Matematika murni menurut Emmanuel Kant bukanlah suatu ilmu
melainkan hanya apriorik dan hanya merupakan ide-ide tanpa ada pengalaman serta
tidak mempedulikan apakah ada manfaatnya atau tidak. Ilmu bersifat sintetik dan
sintetik ada di dunia pengalaman yaitu sintetik aposteriorik, sedangkan
matematika hanya ada dipikiran yaitu apriorik analitik. Etnomatematika
merupakan ilmu jika dipikirkan dan erat kaitannya dengan pengalaman.
Etnomatematika berkaitan dengan
pembelajaran secara hakiki, hakikat ilmu adalah apabila memiliki obyek, maka
obyek Etnomatematika adalah semua gagasan Etnomatematika yang berada di dalam
masyarakat. Setelah mengetahui obyeknya maka kita perlu mengetahui
kedudukannya. Etnomatematika menyediakan variasi sumber belajar, variasi
kegiatan, variasi pengalaman dan variasi konteks, karena menyediakan variasi
tersebut maka Etnomatematika berada pada tingkatan bawah yaitu konkrit.
Tingkatan ini masih pada tingkatan siswa dan belum abstrak. Namun kebanyakan
pendidik berpikir bahwa Matematika merupakan ilmu yang bersifat deduktif dan
abstrak, ini tidak fleksibel dan tidak sesuai bagi siswa karena tidak sesuai dengan
kondisi. Hal ini menunjukkan ketidakpedulian pendidik yang selalu menggunakan
definisi kepada siswa tanpa melihat tingkatannya. Tidak semua bisa
didefinisikan seperti hal yang intuitif, karena hal itu merupakan intuisi yang
sudah kita ketahui tanpa perlu didefinisikan.
Jadi, dalam hal kependidikan Etnomatematika
merupakan dunia inovasi pendidikan. Hal ini ditentukan oleh sikap dan pikiran
guru, dari sisi kurikulum ada 3 posisi guru yaitu pelaksana, partisipan, dan
pengembang. Guru sebagai pelaksana dan partisipan belum menampakkan adanya
inovasi pendidikan karena masih terpaku pada perangkat pembelajaran seperti RPP
dan ujian oriented sebagai tujuan pembelajaran. Syarat agar guru dapat
berinovasi dalam pembelajaran, maka guru harus memposisikan diri sebagai
pengembang. Guru sebagai pengembang dapat berinovasi melalui pengembangan
kurikulum bukan hanya sekedar pelaksana dan partisipan. Agar seorang guru dapat
menjadi seorang pengembang maka semua paradigma harus ada perubahan. Selain itu
guru juga harus memposisikan sebagai peneliti, sehingga memiliki kinerja yang
berbeda. Guru yang seperti ini memiliki keterkaitan dengan Etnomatematika, dan
tinggal mencari cara untuk mengembangkannya. Sehingga Etnomatematika menjadi
lahan bagi para peneliti yang ingin mengadakan penelitian mengenai Matematika.
Source:
Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar