Guest

Minggu, 17 Februari 2013

Matematika dan Budaya



Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diajarkan di pendidikan formal seperti Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi dan pendidikan non formal seperti dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Sejak kita belum diajarkan matematika di pendidikan formal kita sudah mengenal bagaimana Matematika itu, seperti mengerti konsep tentang banyak dan sedikit, luas dan sempit, dan sebagainya. Seiring bertambahnya usia, pengetahuan yang dimiliki di bidang Matematika akan semakin luas dengan adanya pendidikan formal. 

Matematika tentunya tidak hanya untuk diajarkan dan diketahui, namun juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya untuk Indonesia yang memiliki banyak suku, ras, budaya dan agama, Matematika juga memiliki peran dalam berbagai budaya tersebut, baik dalam hal kebiasaan suatu suku atau masyarakatnya maupun dalam hal adat istiadat. 

Matematika yang berkaitan dengan budaya, kontekstual dan realistik disebut sebagai Etnomatematika. Etnomatematika sendiri berasal dari Etno, yaitu etnik, dan Matematika. Kegiatan masyarakat yang membudaya serta berkaitan dengan Matematika khususnya di Jawa contohnya seperti kalender Jawa. Pasaran dalam kalender Jawa ada 5 dengan urutan legi, pahing, pon, wage dan kliwon dipadukan dengan jumlah hari dalam kalender Masehi yaitu 7 menjadi kelipatannya 35. Hari-hari yang sering diperingati dalam budaya Jawa seperti 40 hari, 100 hari, 1000 hari, selapanan dan lainnya dihitung menggunakan pasaran Jawa tersebut. Selain itu mengenai candi-candi yang telah dibangun sejak dulu, dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran, bagaimana orang-orang dahulu dapat memperhitungkan volum batu-batu tersebut sedemikian rupa hingga dapat membentuk candi. Dengan Etnomatematika pembelajaran tentu tidak hanya menjadi kontekstual dan realistik namun juga membentuk rasa sosial dengan adanya keterkaitan dengan budaya.

Etnomatematika memiliki sifat yang fleksibel dan dapat dikatakan sebagai  jembatan yang mensinkronisasikan antara matematika dengan budaya serta masyarakat sosial. Selain itu, dengan mempelajarinya dapat membentuk idealitas dan sifat merdeka dari dalam diri, namun tergantung kepada setiap individu. Ilmu ini dapat diterapkan oleh para guru kepada siswa-siswa di sekolah, dengan catatan guru tersebut tidak berada di bawah tekanan/pressure dari atasan di sekolah maupun dari lingkungan. Kebanyakan guru memiliki beban yang cukup berat seperti tekanan/pressure untuk mendidik para siswanya agar lulus ujian sehingga guru lebih mementingkan mengejar materi dan mencapai target kelulusan siswanya. Tanpa adanya idealitas dan sifat merdeka yang muncul dari dalam seorang guru maka Etnomatematika tidak akan mungkin terlaksana dalam pendidikan di sekolah. Itulah mengapa Etnomatematika dapat membentuk idealitas dan sifat merdeka dari dalam diri.

Source: Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar