Matematika merupakan ilmu
pengetahuan yang diajarkan di pendidikan formal seperti Taman Kanak-kanak,
Sekolah Dasar, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi dan pendidikan non formal
seperti dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Sejak kita belum diajarkan
matematika di pendidikan formal kita sudah mengenal bagaimana Matematika itu,
seperti mengerti konsep tentang banyak dan sedikit, luas dan sempit, dan
sebagainya. Seiring bertambahnya usia, pengetahuan yang dimiliki di bidang
Matematika akan semakin luas dengan adanya pendidikan formal.
Matematika tentunya tidak
hanya untuk diajarkan dan diketahui, namun juga digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Khususnya untuk Indonesia yang memiliki banyak suku, ras, budaya
dan agama, Matematika juga memiliki peran dalam berbagai budaya tersebut, baik
dalam hal kebiasaan suatu suku atau masyarakatnya maupun dalam hal adat
istiadat.
Matematika yang berkaitan
dengan budaya, kontekstual dan realistik disebut sebagai Etnomatematika. Etnomatematika
sendiri berasal dari Etno, yaitu etnik, dan Matematika. Kegiatan masyarakat
yang membudaya serta berkaitan dengan Matematika khususnya di Jawa contohnya seperti
kalender Jawa. Pasaran dalam kalender Jawa ada 5 dengan urutan legi, pahing,
pon, wage dan kliwon dipadukan dengan jumlah hari dalam kalender Masehi yaitu 7
menjadi kelipatannya 35. Hari-hari yang sering diperingati dalam budaya Jawa
seperti 40 hari, 100 hari, 1000 hari, selapanan dan lainnya dihitung
menggunakan pasaran Jawa tersebut. Selain itu mengenai candi-candi yang telah
dibangun sejak dulu, dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran, bagaimana
orang-orang dahulu dapat memperhitungkan volum batu-batu tersebut sedemikian
rupa hingga dapat membentuk candi. Dengan Etnomatematika pembelajaran tentu
tidak hanya menjadi kontekstual dan realistik namun juga membentuk rasa sosial
dengan adanya keterkaitan dengan budaya.
Etnomatematika memiliki
sifat yang fleksibel dan dapat dikatakan sebagai jembatan yang mensinkronisasikan antara
matematika dengan budaya serta masyarakat sosial. Selain itu, dengan
mempelajarinya dapat membentuk idealitas dan sifat merdeka dari dalam diri, namun
tergantung kepada setiap individu. Ilmu ini dapat diterapkan oleh para guru
kepada siswa-siswa di sekolah, dengan catatan guru tersebut tidak berada di
bawah tekanan/pressure dari atasan di sekolah maupun dari lingkungan.
Kebanyakan guru memiliki beban yang cukup berat seperti tekanan/pressure untuk
mendidik para siswanya agar lulus ujian sehingga guru lebih mementingkan
mengejar materi dan mencapai target kelulusan siswanya. Tanpa adanya idealitas
dan sifat merdeka yang muncul dari dalam seorang guru maka Etnomatematika tidak
akan mungkin terlaksana dalam pendidikan di sekolah. Itulah mengapa
Etnomatematika dapat membentuk idealitas dan sifat merdeka dari dalam diri.
Source: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar